Puluhan siswa SD Negeri 64/VII Kelurahan Sukasari, Kabupaten Sarolangun, Jambi, sejak dua tahun terakhir terpaksa harus belajar di lantai perpustakaan sekolah, karena kekurangan bangku (mebeler).

Kondisi ini sungguh mengenaskan, padahal SD tersebut terletak di tengah Kota Sarolangun, yang merupakan ibukota kabupaten.

Menurut Kepala Sekolah (Kepsek) SD 64/VII, Neng Rosmadi Minggu, para pelajarnya, khususnya murid kelas IV terpaksa harus belajar di lantai perpustakaan karena sekolah tidak memiliki bangku sekolah, yang memadai dan mencukupi.

“Sudah dua tahun ini. Tak jarang, para siswa terpaksa ada yang membawa meja belajar sendiri dari rumah mereka masing-masing,” kata Neng Rosmadi, Minggu (21/10/2012).

Ia juga mengaku telah berusaha meminta bantuan, baik ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sarolangun maupun ke pemerintah daerah, namun hingga saat ini upaya yang dilakukan pihak sekolah belum mendapatkan respons.

“SD Negeri 64 ini dibangun sejak tahun 1977 dan masih banyak kekurangan fasilitas belajar, seperti ruang belajar, kursi belajar siswa banyak yang sudah reot sebab kursi kayu dibuat sejak tahun 1977,” ujarnya.

Hingga saat ini, kursi untuk para siswa belum pernah ada pergantian, bahkan lantai sekolah pun sudah mulai hancur. Hal ini terlihat dari lantai sekolah yang telah berlubang-lubang dan pecah-pecah.

Guna memenuhi minat belajar para siswa, pihak sekolah terpaksa berinisiatif menggunakan ruang perpustakaan untuk dijadikan lokasi belajar.

“Dengan terpaksa siswa kelas IV B harus belajar di lantai perpustakaan. Kami berharap mendapatkan perbaikan lantai dan pengadaan kursi bagi para pelajar,” harapnya.

Ia mengaku sekolahnya sudah banyak mendulang prestasi, sayangnya, ukiran prestasi SD Negeri 64 seperti tak berbekas dan tak mendapatkan imbal balik berupa peningkatan fasilitas belajar bagi para siswa.

Neng juga kerap menerima keluhan dari para siswa yang mengeluhkan sakit pinggang dikarenakan terlalu lama belajar di lantai menggunakan meja kecil.

Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun Lukman, mengakui masih banyak sekolah di Sarolangun yang memerlukan bantuan dan peningakatan fasilitas belajar.

Saat disinggung soal kondisi SD Negeri 64, Lukman tidak memberikan jawaban pasti dan hanya berjanji akan berupaya untuk bisa memenuhi kekurangan sekolah yang ada.

“Memang sekolah kita masih banyak yang kekurangan mebeler, namun kita akan berupaya untuk bisa membantu sekolah yang kekurangan bangku sekolah tersebut,” katanya.  

Sumber: KOMPAS.COM

Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, mengeluh kesulitan menertibkan aktivitas ratusan tambang emas ilegal karena minimnya dana. Akibatnya, tambang emas ilegal di wilayah tersebut semakin marak dalam dua tahun terakhir.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sarolangun Thamrin, Jumat (2/11/2012), mengatakan, tim operasi penertiban penambangan emas tanpa izin (PETI) sudah terbentuk sejak 2011. Namun, saat itu upaya penertiban belum terlaksana karena ketiadaan anggaran dari daerah.

“Anggaran operasi penertiban PETI baru terealisasi tahun ini. Jumlahnya pun hanya Rp 200 juta, dinilai sangat tidak memadai. Pada tahun ini, kami praktis baru dua kali melakukan operasi,” ujar Thamrin.

Dari hasil operasi pada Oktober lalu, tim memusnahkan 25 unit tambang pasir sekaligus emas atau disebut usaha dompeng. Temuan ini pada sejumlah subdaerah aliran sungai di wilayah Sarolangun.

Thamrin mengakui tim kesulitan memberantas aktivitas tambang ilegal. Selain minimnya dana operasi, pihaknya juga mendapati sikap petambang yang cenderung anarkistis.

“Mereka selalu beralasan urusan perut dalam melaksanakan usaha ini dan cenderung antipati terhadap kami. Yang sulit jika terjadi benturan otot di lapangan,” tuturnya.

Pihaknya memperkirakan, saat ini ada sekitar 700 unit usaha yang aktif di darat ataupun air sepanjang daerah aliran sungai di wilayah Sarolangun. Sebagian penambang ilegal telah pindah ke Kabupaten Merangin setelah mendapati besarnya potensi emas di kawasan tersebut.

Sumber: KOMPAS.com —

Mekanisme pembayaran tunjangan sertifikasi guru di Kabupaten Sarolangun yang diberikan langsung kepada para guru sertifikasi melalui bendahara sekolah oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Aset Daerah (DPPKAD), kembali dipertanyakan.

Diduga, prosedur itu menyalahi aturan petunjuk teknis. Semestinya, tunjangan sertifikasi dibayarkan melalui rekening guru yang bersangkutan.

Ketua DPRD Sarolangun Susi Afriyanti kepada Jambi Independent, kemarin (27/9/2010), mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan meminta keterangan dari DPPKAD terkait mekanisme pembayaran tunjangan guru sertifikasi yang sebenarnya. “Insya Allah besok saya akan tanyakan persoalan ini,” ujarnya. Read the rest of this entry »

Read the rest of this entry »

Ladang bisnis internet memang menggiurkan dan bisa membuat para pelakunya kaya raya dalam usia muda. Seperti halnya Mark Zuckerberg, pemuda 26 tahun yang memiliki situs jejaring sosial poluler Facebook.

Dalam laporan terbaru majalah keuangan terkemuka Forbes, Mark Zuckerberg naik dari peringkat 135 pada tahun lalu ke peringkat 35. Total kekayaan pribadi Zuckerberg menurut pelusuran Forbes saat ini adalah USD 6,9 miliar setelah sebelumnya ‘hanya’ USD 4,9 miliar.

Sementara Dustin Moskovitz sebagai co-founder Facebook, menempati peringkat untuk pertama kali di urutan 290 dengan kekayaan USD 1,4 miliar. Moskovitz dianggap sebagai orang termuda di daftar itu karena hanya selisih delapan hari lebih muda ketimbang Zuckerberg. Co-founder Facebook lainnya, Eduardo Saverin juga ikut meramaikan daftar dengan menempati urutan ke 400 dengan jumlah kekayaan pribadi mencapai USD 1,15 miliar. Read the rest of this entry »

Sejak ditemukan sekitar tahun 1933, Goa Calo Petak di Kabupaten Sarolangun menjadi objek wisata alam yang memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri. Seperti apa?

Secara geografis, objek wisata Goa Calo Petak masuk ke dalam wilayah RT 03 Desa Meribung, Dusun Sungai Beduri, Kecamatan Limun, Sarolangun.

Dan menurut etimologi bahasa, goa yang mengelilingi Desa Meribung ini berasal dari kata “Colau” yang berarti bukit berbatu dan “petak” yang menandakan bentuk bukit berpetak-petak segi empat. Read the rest of this entry »

Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) tak mempersoalkan sejumlah pejabat pemerintah provinsi (Pemprov) maju dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di kabupaten. “Tidak masalah. Ini berarti makin banyak kader pemprov, calon pemimpin kepala daerah,” katanya saat ditemui usai rapat paripurna di Gedung DPRD Provinsi Jambi, kemarin (25/8).

Selama tidak menganggu kinerja pemerintahan, mantan Bupati Sarolangun itu mempersilahkan pejabat tersebut turun dan melakukan aktivitas sosialisasi. Namun, sesuai dengan undang-undang, mereka harus mundur dari jabatan struktural yang diembannya. “Kalau itu (mundur dari jabatan struktural, red) silakan saja,” katanya. Read the rest of this entry »