HBA Targetkan Swasembada Beras

Posted: 20/02/2008 in KABA KAMPUNG KITO

SAROLANGUN: Masyarakat Sarolangun boleh bangga. Pemkab Sarolangun mendapat surat dari Menteri Pertanian RI yang menyatakan program aksi Gerakan Turun ke Sawah (Gerunwah) dapat diikuti semua daerah yang ada di Indonesia. Demikian diungkapkan Bupati Hasan Basri Agus (HBA) kemarin (19/2) saat melakukan kegiatan panen raya padi sawah di Desa Perdamaian, Kecamatan Singkut.

HBA mengatakan, isi surat tersebut merupakan cambuk bagi pemerintah agar terwujud dan menjadi contoh bagi daerah lain. Melalui kegiatan panen raya ini, ke depan diharapkan bisa mencapai swasembada beras. “Saya dan masyarakat sangat bangga dengan adanya surat dari Menteri Pertanian tersebut. Ini merupakan motivasi kami agar pasca-Gerunwah dapat menghasilkan masyarakat yang sejahtera sesuai dengan visi ‘Sarolangun EMAS,” terangnya. “Insya Allah dalam panen raya yang kedua kalinya, saya bersama pejabat lain siap untuk hadir dalam kegiatan panen raya lagi.”

Untuk diketahui, Bupati melakukan kegiatan panen raya padi sawah seluas 85 hektare, dengan hasil mencapai 4,6 ton. Selain itu di Kecamatan Singkut saat ini sedang terbentang lahan seluas 655 hektare lahan padi sawah yang dikelola oleh 91 kelompok tani.

Kadis Pertanian Kabupaten Sarolangun Hardiyono kepada Jambi Independent mengatakan, pihaknya saat ini sedang membuat terobosan baru, yakni membuat pelayanan via SMS. Layanan ini bertujuan agar semua kelompok tani dapat menyampaikan pesan-pesan yang menjadi keluhan di lapangan. “Dengan keterbatasan kita untuk menyerap informasi dari masyarakat, maka nanti apabila ada yang menjadi keluhan, khususnya para kelompok tani, maka kita akan siap langsung terjun ke lapangan untuk mengatasi apa yang menjadi keluhan masyarakat,” ungkapnya. (Jambi independent)

Comments
  1. omyosa says:

    MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
    Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
    Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s