Anai II Jangan Sampai Rusak Sebelum Digunakan

Posted: 22/02/2008 in BERITAKU

Mengikuti Kunker Komisi III DPRD Sumbar ke Anai Tahap II Padangpariaman

Bangunan rumah, objek wisata dan lahan pertanian masyarakat di sekitar pantai Tiram Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padangpariaman yang tahun lalu rusak parah dihantam gelombang pasang dan digenangi banjir, kini sudah kembali dibenahi. Aktivitas ekonomi pun tampak bergerak. Masyarakat nelayan, pedagang, dan petani sudah melakoni profesinya masing-masing.
Sebagian masyarakat sudah merasa agak aman dari terpaan gelombang pasang dan air bah, sejak kawasan mereka dibangun jetty (tanggul pengaman pantai), normalisasi dan penguatan tebing Batang Tapakis sepanjang dua kilometer. Proyek APBN 2007 senilai Rp5,8 miliar tersebut, sekarang tuntas dibangun dan beberapa bulan lagi habis masa pemeliharaannya.

“Kami bersyukur sekali dengan adanya pembangunan proyek tersebut. Sangat bermanfaat sekali bagi kami yang tinggal di sini,” ungkap Muchtar, pemilik sebuah kedai nasi berbentuk lesehan di objek wisata pantai Tiram kepada Padang Ekspres yang mengikuti kunjungan kerja (kunker) Komisi III DPRD Sumbar ke Padangpariaman, kemarin.

Untuk lebih meningkatkan rasa aman dan keselamatan masyarakat di sepanjang aliran Batang Tapakis dan sekitar 5000 hektare lahan pertanian tidak rusak jika sungai meluap, Pemerintah Kabupaten Padangpariaman bersama Pemprov Sumbar tahun ini kembali mengusulkan penambahan panjang proyek ke arah hulu sungai sepanjang 8 kilometer. Dibangun dari Batang Tapakis Ulakan, hingga ke Sintuk Toboh Gadang (Sintoga) dengan anggaran sekitar Rp80 miliar.

Ketua Komisi III Yulman Hadi (F-PG) mengusulkan proyek tersebut sebagian dananya dianggarkan dalam APBD Sumbar. “Setelah kita anggarkan di APBD Provinsi, baru kita ajukan tambahan dananya ke pemerintah pusat,” ucap Yulman Hadi kepada Pelaksana Proyek Sarbaini usai meninjau hasil pembangunan tanggul pengaman pantai Tiram.

Setelah meninjau proyek jetty, rombongan kunker beranjak ke kawasan rencana pembangunan irigasi Anai tahap II yang meliputi Kecamatan Ulakan Tapakis, Nan Sabaris, Sintuk Toboh Gadang dan Padang Pariaman Selatan. Irigasi yang airnya dialirkan dari Batang Anai (tambahan dari PLTA Singkarak) dengan debit andalan 19,00 M3/detik itu bakal mengaliri lahan persawahan masyarakat seluas 6.840 hektare.

Masa pelaksanaan proyek senilai Rp220 miliar ini direncanakan selesai tahun 2011. Tahun ini Pemerintah Kabupaten Padangpariaman fokus menuntaskan pembebasan lahan yang diperkirakan menelan dana Rp48 miliar, sedangkan tahun depan proyek sudah masuk tahap pembangunan jaringan tersier dan jalan usaha tani.

Dalam kesepakatan bersama Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, Bupati Padangpariaman Muslim Kasim dan Wali Kota Pariaman 3 Desember 2007, disepakati pembagian (sharing) dana pembebasan tanah untuk merealisasikan proyek tersebut. Pemprov menanggung 20 persen, Padangpariaman 20 persen dan Pariaman 10 persen. Sisanya dana APBN.

Sebelum dana proyek itu dianggarkan di APBD Provinsi, Anggota Komisi III DPRD Sumbar Bachtul (F-PAN) meminta dinas terkait untuk menjelaskan secara rinci teknis perencanaan dan pelaksanaan serta kualitas proyek itu. Begitu pula sistem pengawasan dan pemeliharaannya.

“Itu semua harus dipaparkan di DPRD. Terutama sekali soal kualitasnya. Kami tidak ingin proyek ini akan bernasib sama dengan sejumlah proyek infrastruktur lainnnya yang rusak sebelum digunakan,” ingat Bachtul di sela kunker yang juga diikuti Wakil Ketua Komisi III Abdul Kadir, Anggota Djonimar Boer, Syamsir, Taslim, Refdinal, M Siddiq, dan Hayatul Fikri.

Dari perencanaan yang sudah dibuat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Sumatera V Departemen Pekerjaan Umum, proyek ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan intensitas tanam padi dari 90 persen menjadi 180 persen. “Tentu saja ini berimbas pada peningkatan pendapatan para petani dan mengurangi kemiskinan,” kata Kasubdin Irigasi Dinas PSDA Sumbar Zahrul Umar saat meninjau lokasi irigasi dan areal sawah masyarakat di Ulakan Tapakis.

Sebelum sampai ke objek utama kunker, rombongan terpaksa harus turun dari bus dinas DPRD Sumbar dan berjalan beberapa meter karena ruas jalan baru akses dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Ibukota Padangpariaman nyaris putus. Jalan yang masih dilapisi tanah atau dalam tahap pengerjaan itu hancur, diduga akibat gerusan air hujan yang mengguyur kawasan tersebut beberapa hari belakangan.

Sekitar satu kilometer sebelumnya, kondisi jalan juga sangat parah. Jalan berbentuk danau-danau kecil dan sedikit dalam itu lebar kerusakannya hampir memenuhi seluruh badan jalan. Tidak terlihat adanya alat berat yang melakukan perbaikan. Kendaraan roda dua maupun roda empat sangat sulit melalui jalur ini. (Heri Sugiarto)

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s