Pusat Gempa Bergeser ke Painan

Posted: 24/02/2008 in BERITAKU
Gempa 6,5 SR Guncang Sumatera Barat

PADANG: Gempa masuk kategori besar, diatas 5 skala richter (SR) sepekan terakhir terus mengguncang pesisir barat Sumatera, Aceh, Sumbar dan Bengkulu. Kemarin, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat, gempa terjadi sebanyak enam kali. Pertama pukul 11:36 WIB gempa tektonik berkekuatan 5,7 SR terjadi di Bengkulu, pada kedalaman 10 km.
Episentrum gempa berada di koordinat 3,75 Lintang Selatan (LS) dan 101,78 Bujur Timur (BT) atau berjarak 38 km barat daya Kecamatan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara. Beberapa jam kemudian, pusat gempa bergeser ke 157 km barat daya Painan Sumbar pada koordinat 2.46 LS – 99.69 BT. Gempa berkekuatan 5,3 SR dengan kedalaman 30 km itu terjadi pukul 15:53 WIB.
Tadi malam, pukul 21:46 WIB gempa lebih besar kembali mengguncang dengan kekuatan 6,5 SR berpusat di 157 km barat daya Painan-Sumbar atau 151 km barat laut Muko-muko, Bengkulu. Gempa juga dirasakan warga Kota Padang, karena pusat gempa berjarak 185 km dari Padang. Beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 21:57 gempa susulan 5,6 SR kembali mengguncang di barat daya Muko-muko, Bengkulu dan Painan.
Sedangkan Pusat Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebutkan, gempa pukul 21:46 WIB berkekuatan 6,4 SR pada kedalaman 35 km. Pusat gempa berada di Kepulauan Mentawai, berjarak 150 km dari Kota Padang dan 300 km Bengkulu. Susulannya, pukul 21:57 WIB berkekuatan 5,5 SR, berpusat di 185 km Kota Padang dan 285 km dari dengan kedalaman 29.3 km.
Belum ada laporan korban jiwa yang diakibatkan gempa tersebut, namun warga yang berada di pesisir pantai yang trauma langsung melarikan diri, meskipun gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Di Padang, gempa juga dirasakan sebagian warga, terutama yang berada di bangunan bertingkat. Mereka langsung berlarian ke luar gedung dan rumah.
Sehari sebelumnya, gempa juga mengguncang Muko-muko Bengkulu pukul 06:55 WIB berkekuatan 5.8 SR dan kedalaman 27 Km. Kemudian pukul 14:17 WIB gempa mengguncang tidak jauh dari pusat gempa pertama, dengan kekuatan 5.6 SR pada kedalaman 29 km. Pada 12-13 September 2007, gempa 7,9 SR memporakporandakan daerah ini, termasuk Kabupaten Pesisir Selatan yang berbatasan langsung dengan Muko-muko. Akibatnya, 15 orang menjadi korban jiwa dan puluhan orang luka-luka dalam peristiwa ini. Gempa juga merusak 53.172 unit dan ribuan bangunan pemerintah serta fasilitas umum di Bengkulu. Bahkan, kerugian saat itu ditaksir mencapai Rp3 triliun.
Terus Terjadi
Kepala Sub Kegempaan BMG Pusat, Suharjono kepada Padang Ekspres tadi malam menyebutkan, gempa tersebut merupakan rangkaian dari pergerakan lempeng Indo Australia dan Eurasia yang menjalar sepanjang Andaman sebelah barat Sumatera, sampai ke Selat Sunda, kemudian berbelok ke Nusa Tenggara Timur lalu ke laut Banda.
Gempa besar yang mengguncang Aceh tahun 2004 silam, kata Suharjono, juga berpengaruh terhadap tumbukan lempengan bumi yang memicu gempa sampai sekarang di Aceh, Muko-muko, Painan, Laut Jawa, dan Sulawesi hingga Papua.”Itu akan bergerak terus selagi bumi ini berputar. Arus konveksi di perut bumi akan mempengaruhi gerakan lempengan yang kemudian bertubrukan dan menimbulkan gempa,” jelas Suharjono.
Dia mengingatkan kesiapsiagaan masyarakat agar tahu apa yang dilakukan bila gempa terjadi. “Apabila masyarakat sudah tahu, maka mereka tidak akan terlalu panik atau bisa survive ketika gempa mengguncang. Misal ada sirine peringatan dini tsunami, masyarakat sudah tahu akan lari ke mana dan dimana lokasi evakuasi yang disiapkan pemerintah.”
Sementara Pakar Gempa dari Universitas Andalas Padang Dr Badrul Mustafa Kamal mengatakan gempa yang terjadi di Muko-muko Bengkulu dan Painan, Pesisir Selatan tersebut merupakan fenomena biasa atau bagian dari gempa susulan dari gempa utama 12-13 September 2007 lalu.
“Itu biasa. Gempa yang berada di blok Sipora Pagai itu akan terus terjadi sampai enam bulan sejak gempa utama 12-13 September lalu. Intensitasnya akan terus menurun, meskipun kekuatan gempa masih berfluktuasi besar dan kecil,” ujar Badrul, tadi malam.
Gempa yang diakibatkan tumbukan lempeng Indo Australia dan Eurasia tersebut tidak akan menimbulkan gempa besar dan tsunami, karena energinya sudah keluar pada 12-13 September lalu. Begitu pula dengan gempa yang bersumber dari blok Siberut, Kepulauan Mentawai dan Simeulue Aceh. “Hingga 100 tahun lagi, saya kira tidak mungkiin terjadi gempa besar, karena energinya sudah keluar semua. Tipis kemungkinan terjadi dalam waktu dekat,” kata Badrul.
Meskipun begitu, karena gempa yang mengguncang di atas 6 SR, Badrul mengingatkan masyarakat tetap waspada dan tawakkal serta tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Pemerintah juga diharapkan terus mengefektifkan sosialisasi ke masyarakat tentang gempa, bahayanya dan apa yang harus dilakukan jika gempa terjadi. “Yang pertama harus diingat, jangan mudah percaya pada isu yang tidak jelas,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s