KPK Tangkap Jaksa Suap Rp 6 Miliar

Posted: 02/03/2008 in INDONESIA HARI INI
TKP di Rumah Obligor BLBI Sjamsul Nursalim

JAKARTA : Koordinator jaksa penyelidik kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) Urip Tri Gunawan tertangkap tangan saat menerima suap senilai USD 600 ribu. Jaksa yang menangani kasus Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) milik bos Grup Gadjah Tunggal Sjamsul Nursalim itu dicokok tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat bertransaksi dengan seorang pria berinisial AS.

KPK menangkap Urip di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. Barang bukti uang tunai berbentuk dolar ikut diamankan dalam penangkapan kemarin (2/3) pukul 16.30 itu.

Penangkapan Urip tersebut merupakan ironi dalam penegakan hukum di negeri ini. Sebab, mantan Kajari Klungkung, Bali, itu disebut-sebut sebagai salah seorang jaksa terbaik di tanah air. Karena itulah dia direkrut ke Jakarta menjadi bagian dari 35 jaksa terbaik daerah yang ditugaskan menyelidiki kasus BLBI.

Bahkan, dia dipercaya menjadi koordinator untuk memeriksa dugaan korupsi kasus Sjamsul Nursalim. Hasil penyelidikan Urip dkk tidak menemukan bukti korupsi dalam BLBI senilai Rp 47,5 triliun. Jaksa menganggap Sjamsul sudah membayar sesuai kewajibannya, meski setelah dijual, negara mendapat Rp 3,4 triliun.

Urip diduga menerima suap itu terkait dengan penghentian penyelidikan kasus BLBI di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam pernyataannya, KPK tidak menyebut nama lengkap Urip, tapi hanya inisial UTG.

Urip dibawa ke KPK pukul 18.15. Dua mobil berwarna silver berhenti di depan Kantor KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta Pusat. Mobil itu adalah Kijang LGX bernopol DK 1832 CF milik tersangka dan sebuah Daihatsu Xenia milik penyidik KPK. Suasana begitu tegang ketika seorang tersangka dikeluarkan dari Kijang dengan tangan diborgol.

“Jangan, jangan diambil gambarnya dulu,” ujar seorang penyidik KPK sambil menyilangkan kedua tangannya tanda melarang kepada Jawa Pos.

Wajah jaksa yang pernah menuntut mati Amrozi dan Imam Samudra itu terlihat kuyu. Dua polisi membawa pistol dan senapan mengapit tersangka yang kemarin memakai atasan kemeja putih dan celana jins biru muda tersebut. Di belakangnya, tak ketinggalan beberapa penyidik KPK yang langsung membawa Urip ke ruang pemeriksaan di gedung KPK.

Namun, tak berapa lama kemudian, rombongan penyidik dan tersangka turun lagi dan menuju ke mobil tersangka yang diparkir di depan gedung KPK. Tak seperti sebelumnya, kali ini Urip melawan dan terkesan enggan kembali ke mobilnya. Akibatnya, terjadi tarik-menarik antara tersangka dan dua personel Brimob yang mengapitnya.

Bahkan, seorang personel Brimob sampai harus menarik lengan kiri tersangka dan menenteng pistolnya agar Urip mau dibawa lagi ke mobilnya. Akhirnya, pria berusia sekitar 40 tahun itu menurut setelah polisi membentak dan menendang kaki kanan tersangka. “Katanya saya yang ambil,” ujar Urip membentak kedua polisi yang terus memegang kedua tangannya itu.

Penyidik KPK meminta Urip kembali ke mobilnya untuk mengambil sebuah kardus minuman mineral yang berisi tumpukan kertas dan sebuah map biru tua di bagian atasnya. Penyidik, polisi, maupun tersangka sama sekali tidak mau berbicara ketika ditanya soal kasus tersebut. “Nanti saja tunggu Pak Johan (Jubir KPK), sebentar lagi juga pimpinan datang biar mereka yang bicara,” ujar seorang penyidik.

Setelah benda yang diinginkan diambil, tersangka kembali dibawa ke ruang pemeriksaan. Sekitar satu jam kemudian, Jubir KPK, Johan Budi, tiba di Kantor KPK. “KPK dapat info bahwa ada seorang penegak hukum menerima suap dalam bentuk dolar. Ya kalau dikurskan rupiah, sekitar Rp 6 miliar,” ujarnya sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.

Menurut dia, tersangka yang berprofesi sebagai jaksa di Kejagung itu tertangkap tangan ketika menerima suap di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan pukul 16.30. “UTG menerima uang dari AS sehingga sekarang dia diperiksa oleh penyidik KPK,” kata Johan yang kemarin memakai jaket kulit hitam.

Dia menambahkan, akan ada dua orang lagi yang diperiksa KPK. Ternyata, pernyataan Johan itu benar. Sebab, pukul 20.30, seorang laki-laki dibawa penyidik. Namun, pria yang kemarin memakai jaket warna putih dan merah itu enggan diwawancarai wartawan. Hanya, berbeda dengan Urip, pria tersebut sama sekali tidak diborgol.

Hal yang sama terjadi ketika KPK kembali membawa seorang wanita pada pukul 20.45. Wanita keturunan Tionghoa itu juga tak mau berkomentar. Menurut sumber Jawa Pos, wanita tersebut biasa dipanggil “Ibu Asun”. Namun ketika akan dikonfirmasi lebih lanjut, sumber itu menolak menjelaskan.

Bantahan Urip

Setelah diperiksa lima jam, pukul 23.02 Urip dibawa lagi ke mobilnya untuk mengambil barang bukti yang dituduhkan kepadanya. Penyidik KPK akhirnya mengeluarkan sebuah tas hitam dari jok depan mobil Kijang LGX milik tersangka. Sambil menyaksikan pengambilan barang bukti tersebut, Urip menyangkal uang yang tersimpan di tas itu ada hubungannya dengan kasus BLBI.

“Itu hasil penjualan permata. Pembeli dan kuitansi penjualannya ada,” tegasnya kepada wartawan. Dia pun mengaku siap membeberkan bukti yang dimiliki di pengadilan. “Saya berani jamin 100% tidak ada kaitannya dengan kasus BLBI,” ulangnya.

Menurut dia, uang dalam bentuk dolar itu murni hasil penjualan permata yang telah ditekuninya enam bulan sejak bertugas di Kejagung. Namun, ketika ditanya tentang bentuk dan ukuran permata yang membuat harganya menjadi sangat mahal itu, Urip menolak menjelaskan.

Lalu saat ditanya tentang dugaan KPK bahwa dia terlibat kasus BLBI, Urip mengatakan itu hak penyidik. “Silakan kalau bisa buktikan,” tambahnya.

Sesudah penahanan Urip, KPK juga memeriksa seorang wanita bernama Asung. Apakah dia ada hubungan dengan dirinya? Urip membantah. “Saya kurang tahu siapa dia karena kamar pemeriksaan kami dipisah,” bebernya.

Namun, Jubir KPK Johan Budi mengatakan, KPK menduga penyuapan terhadap tersangka ada hubungannya dengan kasus BLBI. “Kita masih mengembangkan pemeriksaan untuk lebih mendalami kasus ini,” ujarnya ketika ditanya tentang tindak lanjut dugaan tersebut.

Ketika ditanya siapa AS, pihak yang diduga menyuap tersangka, Johan mengatakan, KPK masih mendalami pemeriksaan. “Dia warga negara biasa. Sampai malam ini masih kita kembangkan penyidikannya. Dia masih saksi.”

Soal argumen Urip bahwa uang USD 600 ribu itu hasil penjualan permata, Johan mengatakan terserah tersangka. “Mengaku sih boleh-boleh saja. Yang jelas, dia kita dapatkan tertangkap tangan ketika menerima suap di sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan,” urainya.

Jampidus Kaget

Secara terpisah, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kemas Yahya Rahman mengaku terkejut atas penangkapan jaksa Urip Tri Gunawan yang merupakan anak buahnya. “Saya baru tahu dari teman-teman wartawan,” kata Kemas yang dihubungi koran ini tadi malam (2/3).

Kemas menegaskan, perbuatan Urip merupakan inisiatif pribadi. Mantan kepala Kejati Banten itu menolak dikaitkan dengan penangkapan tersebut. “Saya nggak pernah memerintahkan anak buah saya minta-minta (uang suap),” ujar Kemas.

Namun, sebaliknya, Kemas selalu berpesan kepada anak buahnya agar tidak melakukan tindakan yang memalukan korps kejaksaan.

Menurut Kemas, kejaksaan tidak akan membuka lagi kasus BLBI meski salah seorang koordinator jaksanya menerima suap. “Kayaknya tidak (dibuka lagi),” jelas Kemas.

Di tempat terpisah, Jaksa Agung Muda (JAM) Intelijen Wisnu Subroto mengatakan bahwa dirinya mendapatkan informasi penangkapan Urip dari stafnya, Asintel Kejati DKI Adi Togarisman. Dia juga mengaku telah melaporkan penangkapan Urip kepada jaksa agung. “Sebenarnya ini bukan kewenangan saya. Saya hanya melaporkan ke jaksa agung,” kata Wisnu saat dihubungi koran ini kemarin (2/3).

Menurut Wisnu, Urip bisa jadi dimanfaatkan seseorang berkaitan dengan penghentian penyelidikan kasus BLBI di Gedung Bundar. “Siapa yang memanfaatkan, saya tidak tahu. Yang memeriksa kan bukan saya,” ujar Wisnu.

Pada bagian lain, pengacara Sjamsul Nursalim, Adnan Buyung Nasution, menolak mengomentari penangkapan jaksa terkait kasus BLBI kliennya. “Saya no comment dulu lah,” kata Buyung kepada koran ini tadi malam (2/3). Buyung mengatakan memang menjadi pengacara Sjamsul. Namun, sejak bertugas menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Buyung sudah tidak lagi memegang perkara, termasuk BLBI Sjamsul.

Sedangkan pengacara Sjamsul yang lain, Maqdir Ismail, mengakui mendapat informasi penangkapan jaksa terkait kliennya. “Saya kaget saja,” ujar Maqdir kepada koran ini kemarin (2/3).

Maqdir mengaku tidak tahu-menahu siapa AS yang diduga menyerahkan uang suap kepada Urip. Sebab, selama menangani kasus BLBI, tim pengacara hanya berhubungan dengan keluarga Sjamsul. “Pak Sjamsul memang di Singapura. Saya nggak kenal AS,” ujar Maqdir. Dan, selebihnya, tim pengacara tidak pernah menyarankan keluarga Sjamsul mencari “jalan tikus” melalui suap untuk menghentikan penyelidikan kasus BLBI. (jawapos)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s