Dasar Laut Mentawai Longsor, Pemprov Siaga 24 Jam

Posted: 09/03/2008 in BERITAKU, INDONESIA HARI INI

PADANG: Hasil penelitian terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut de Physique du Globe/IPG) Paris di Kapupaten Kepulauan Mentawai 15 Februari-6 Maret 2008 menemukan adanya bekas longsoran tanah bawah laut yang sangat besar di sekitar daerah tersebut. Penelitian dilakukan 50 peneliti dari 16 institusi internasional, termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Pusat Penelitian Geologi Kelautan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral serta Departemen Kelautan dan Perikanan RI.

Penelitian ini dinamakan Pre-Tsunami Investigation of Seismic Group (PreTI-GAP).  Berdasarkan hasil penelitian tersebut, longsoran berpotensi menimbulkan tsunami, meskipun gempa dalam magnitudo kecil. Menurut Ketua Tim Peneliti Prof Satish Singh dari IPG Paris, sebelumnya longsor di dasar laut Norwegia dilaporkan mengakibatkan tsunami di sepanjang pantai Kanada hingga Amerika Serikat.

Prof Satish Singh mengatakan, jejak-jejak longsoran tersebut berada di area sepanjang 340 kilometer segmen timur Kepulauan Mentawai. Ia memperkirakan temuan itu merupakan penyebab terjadinya tsunami setinggi lima meter di Kota Padang pada 1797. “Longsoran tanah di dasar laut tidak hanya terjadi di Siberut, tapi area sepanjang 340 kilometer dari Pagai Selatan sampai Siberut. Semuanya patah, tapi untungnya hanya selapis demi selapis sehingga dampaknya tidak besar. Kalau patahnya bersamaan, itu bencana yang sangat besar,” katanya.

Menurut dia, tsunami setinggi dua meter yang menghancurkan permukiman penduduk di pesisir Selatan Jawa tahun 2006 pascagempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) kemungkinan juga terjadi karena longsor di dasar laut. “Itu mungkin salah satu yang terjadi karena longsor tapi kita tidak pernah tahu karena tidak pernah mencari tahu. Kita hanya melihat pada gempa, tidak pada kemungkinan dampak longsor di bawah laut,” ujarnya. Ahli Geologi Tektonik dari Puslit Geoteknologi LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaja menambahkan, tsunami yang terjadi di Simeulue tahun 1907 kemungkinan juga terjadi karena longsor di dasar laut. “Sebab jika dilihat kekuatan gempa yang terjadi saat itu hanya 7,6 Mw tapi tsunaminya dua kali lebih besar dibanding yang terjadi di Aceh,” ulasnya.

Anggota tim peneliti Pre-TI GAP yang lain, Dr Haryadi Permana dari Puslit Geoteknologi LIPI, menjelaskan bahwa hasil penelitian juga menunjukkan adanya serangkaian sesar atau patahan balik naik (back thrust) di Timur Laut Kepulauan Mentawai. Guncangan dengan intensitas tertentu termasuk akibat gempa akan mempengaruhi rangkaian patahan balik naik itu dan menyebabkan longsor di dasar laut yang akan memicu tsunami besar. “Sesar ini merupakan pelengkap dari megathrust, zona subduksi, yang secara umum mengalami runtuhan selama terjadinya gempa seperti gempa tahun 2004, 2005 dan 2007,” katanya.

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Iskandar Zulkarnain berharap temuan terbaru itu bisa menjadi bahan masukan bagi pemangku kepentingan terkait dalam membuat kebijakan mengenai mitigasi bencana dan sistem peringatan dini tsunami. “Paradigmanya harus diubah. Selama ini peringatan dini tsunami hanya dikaitkan dengan gempa besar, berkekuatan 8-9 Mw dengan kedalaman pusat gempa lebih dari 60 kilometer. Selanjutnya kemungkinan longsor di dasar laut juga harus diperhitungkan dalam mitigasi,” katanya seperti dilansir kantor berita Antara, kemarin.

Siaga 24 Jam
Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi kepada Padang Ekspres kemarin menyebutkan pihaknya sudah mengetahui adanya temuan terbaru itu. “Ya, saya sudah menerima informasi tersebut. Besok (hari ini, red) saya akan memanggil unit kerja terkait untuk memastikan semua sistim dan peralatan early warning system kita bekerja dengan baik. Saya juga berharap Walikota Padang atau Sekko Padang ikut hadir,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut bukan kabar pertakut bagi masyarakat, tapi merupakan upaya Pemprov Sumbar untuk menjamin rasa aman dan nyaman bagi masyarakat sehingga tidak panik apabila sewaktu-waktu terjadi gempa. Apalagi, pulau Sumatera memang rawan terjadinya gempa. “Kita tetap waspada. Posko siaga 24 jam,” ungkap Gubernur.  Lempeng Samudera Hindia Landai Sementara guru besar bidang seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Sri Widiyantoro menyebutkan, gempa di atas 6,5 SR dengan titik pusat gempa yang relatif dangkal sangat potensial menimbulkan tsunami, tapi itu tidak terjadi karena lempeng Samudera Hindia yang menyusup di titik gempa sudutnya landai.

Menurutnya, di pantai Barat Pulau Sumatera, rata-rata sudut penunjaman lantai samudera lebih landai daripada pantai selatan Pulau Jawa, ini karena lantai samudera di bawah Sumatera lebih muda daripada Pulau Jawa. Usia lantai samudera di bawah Pulau Sumatera diperkirakan 50 juta tahun, sementara lantai samudera di bawah Pulau Jawa adalah sekitar 100 juta tahun. Bila lempeng berusia muda, maka daya apungnya masih tinggi, densitasnya relatif lebih ringan dan lantainya lebih landai.

“Lempeng yang lebih muda juga lebih aktif dan menyusup dengan sudut penunjang yang landai. Kondisi macam ini juga menimbulkan bahaya gesekan yang lebih kuat, sehingga skala gempa biasanya besar-besar bahkan hingga 7 SR,” kata Widiyantoro. “Memang gempa bumi sangat sulit diprediksi, sepertinya tidak berpola, tapi sejak Desember 2004 kondisi lempeng di bawah Pulau Sumatera belumlah stabil sehingga yang terjadi sekarang adalah proses mencari posisi keseimbangan,” tambahnya seperti dikutip KCM.  Widiyantoro mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu khawatir akan datangnya gempa, sebab BMG sudah sangat cepat menginformasikan warta gempa dan potensi tsunami. (esg)

Comments
  1. […] kondisi yang jelas mengancam nyawa itu –terlebih munculnya hasil penelitian terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut de Physique du Globe/IPG) Paris di […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s