Maulid Nabi dan Lahirnya Kebebasan

Posted: 21/03/2008 in INDONESIA HARI INI

JAKARTA: Hari ini, 14 abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW lahir. Kelahirannya itu kini dimaknai sebagai pijakan bagi lahirnya kebebasan. Sebuah semangat pembebasan umat dari era kegelapan menuju pencerahan.

Hikmah yang bisa dipetik dari peringatan Maulid Nabi adalah mengikuti tauladan Nabi sebagai seorang yang memiliki toleransi tinggi terhadap keyakinan orang lain. Selain itu, Nabi juga bukan seorang pemimpin yang menganjurkan kekerasan terhadap orang lain atas nama agama.

Acep Zamzam Noor adalah salah satu penyair yang sependapat dengan pandangan ini. Maulid Nabi, kata dia, harus diperingati sebagai momentum pembebasan. Momentum Nabi dalam membebaskan umat manusia dari kebodohan dan kegelapan; dari kesempitan berpikir menjadi kebebasan yang bisa dimanfaatkan secara luas.

Nabi memberikan teladan pada setiap umat agar bisa menghargai orang lain, termasuk soal keyakinannya. Maka kekerasan terhadap penganut agama lain sangat tidak dianjurkan. “Jadi inilah sebenarnya inti dari Maulid,” kata Acep Zamzam kepada INILAH.COM, Jakarta, Rabu (19/3) malam.

Di sela acara ‘Malam Panggung Kebebasan Beragama’, yang digelar di Kedai Tempo, Utan Kayu, Acep mengatakan, hal penting yang bisa ditauladani umat adalah bagaimana toleransi dan penghargaan terhadap orang lain itu diujudkan dalam bentuk hidup berdampingan secara damai.

“Nabi telah menunjukkan secara pribadi sebagai orang yang tidak pernah memaksakan kehendak,” katanya. “Sebagai orang yang sangat menghargai orang lain, yang menghargai pendapat orang lain, dan juga keyakinan orang lain.”

Acep menegaskan, ini juga menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang suka menyerang orang lain. “Itu barangkali yang harus dipahami,” katanya.

Dalam kaitan dengan maulid Nabi ini, pemerhati kebebasan beragama dari Kelompok Sikh, Tommy Santokh Singh, menilai bahwa kebebasan dan pembebasan yang dibawa dari kelahiran Nabi memiliki kesamaan dengan semangat pembebasan yang dibawa agama Sikh.

Sikh ini, menurutnya, adalah agama termuda di dunia yang lahir di antara dua agama besar di India ketika itu, yakni Hindu dan Islam. Jadi, karena situasi dan kondisi politik, sosial, memang lahir di antara dua agama besar, maka kaitannya terhadap agama-agama itu sangat relevan dan sangat toleran.

“Dia itu kan yang muda, yang tentunya mempunyai toleransi kepada yang tua,” katanya.

Meski Sikh memiliki 10 guru, tapi itu tidak dimaksudkan untuk menangani persoalan keagamaan di seluruh agama. Nilai-nilai filosofis yang lahir dan ada di sana, pada dasarnya adalah ‘sewa’. “Sewa adalah pelayanan,” katanya.

Kalau sudah berbicara ‘sewa’, menurut Singh, itu terlepas dari Hindu, Islam, dan bahkan Sikh sendiri. Dia lebih menekankan ke ‘sewa’ daripada hanya berbicara. Karena, pada zaman lahirnya Sikh ini, dunia sudah terlalu banyak menderita kekacauan, yang malah banyak mengatasnamakan agama, seperti juga terjadi di Indonesia.

“Kelahiran Sikh sebenarnya dimaknai sebagai perlunya pelayanan nyata, berbuat untuk melayani sesama; melayan sesama ciptaan,” katanya. “Maka, unsur semua agama itu adalah sama.”

Hal senada diungkapkan, Martin Lukito Sinaga, dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Menurutnya, kelahiran protestan pun merupakan suatu reaksi terhadap otoritas Paus. Hingga, Martin Luther memang mengatakan kebebasan Kristen itu adalah cara mengikuti Injil.

“Injil tidak diikuti dengan ketaatan kepada gereja, tapi Injil diikuti ketaatan kepada Sabda, kepada Firman,” katanya.

Dan menurut Luther, sebagaimana dituturkan Martin, dalam firman itu, Allah memberi anugerah. Kalau Allah memberi anugerah, dari manusia hanya sikap bebas dan gembira.

“Jadi kelahiran itu adalah reaksi terhadap kuatnya otoritas gereja Katolik saat itu,” katanya. “Sehingga dia, by nature, kodratnya memang ingin lebih bebas dari kekuatan-kekuatan itu.”

Tapi kebebasan di sini, menurut Lukito, hanya bebas di bawah firman. Jadi Luther mengatakan, ‘kalau saya dibuktikan salah menurut kitab suci, maka saya mengaku salah. Tapi, kalau yang mengatakan saya salah itu adalah Paus, saya akan lawan’.

“Jadi, intinya kebebasan terhadap kekuatan gereja, kebebasan terhadap hukum gereja, dan kebebasan untuk menikmati kemurahan Tuhan, selama perang di bawah kitab suci,” katanya.

Setelah itu terjadi konflik agama, yang disebut perang Katolik tahun 1640-an. Lalu pengikut reformasi, namanya Kalvin, lari ke Genewa, Swis, dari perang agama. Dari sanalah Katolik dan Protestan menumbuhkan ‘kedaulatannya’ masing-masing. “Jadi kedaulatan ini dijaga sebagai sikap sosial,” tambah Lukito.

Di atas semua itu, kelahiran Nabi harus diperingati dengan semangat kebebasan beragama dan pembebasan. Bebas untuk membebaskan manusia dan keyakinannya; membebaskan sesama dari kemiskinan, kebodohan, penderitaan, dan penindasan, sebagaimana telah dilakukan Nabi semasa hidupnya. (inilah.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s