Kasus Pembunuhan Meningkat, Empat Bulan 10 Kejadian

Posted: 16/05/2010 in BERITA PROVINSI

Kasus pembunuhan di Provinsi Jambi cenderung meningkat. Menurut data yang dikumpulkan, hanya dalam rentang empat bulan, Februari – Mei 2010 terjadi 10 kasus pembunuhan di Jambi.  Motifnya beragam, mulai dari masalah rumah tangga, ekonomi, selisih paham, dan dendam. Pada periode yang sama, tahun lalu, terjadi tujuh kasus. Dari 10 kasus itu, empat di antaranya terjadi di Kota Jambi.

Enam kasus lagi masing-masing di Muarojambi dua kasus, Merangin dua kasus, Batanghari satu kasus, dan di Tanjab Timur satu kasus. Yang sudah terungkap dan pelakunya ditangkap baru tiga kasus. Yakni dua kasus di Merangin dan satu kasus di Jambi.Kasus yang teranyar adalah pembunuhan yang dilakukan Wantai Wijaya terhadap istrinya Variani alias Micing, Selasa (11/5/2010) lalu.  Pembunuhan ini tergolong sadis. Pengusaha bengkel yang tinggal di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Kebun Handil, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi itu membantai korban dengan 18 tusukan.

Kasus ini sudah berhasil diungkap polisi. Pelakunya pun berhasil ditangkap. Pada hari yang sama juga terjadi kasus pembunuhan di Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi. Korbannya, M Fatkul A Pradana (24) penjaga kolam ikan. Kasus ini belum terungkap.

Kasus lainnya, pada Rabu (5/5) lalu di RT 04 Desa Pijoan, Kec Jaluko Kabupaten Muarojambi. Korbannya, Aliong Alias Hasan (51) warga lorong Masjid RT 05 Kelurahan Kenali Besar Kota Jambi. Korban diduga dibunuh setelah terlibat perkelahian dengan pelaku yang mencuri jagung di kebun majikannya.

Kemudian, di Kabupaten Batanghari, kasus pembunuhan Nazri alias It (35), warga Kampung 5 Petajen, Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari, Rabu (3/2) lalu. Hingga sekarang belum diketahui siapa yang membunuh Nazri di kebun karet itu.

Lalu, pada Jumat (19/3), seorang pengusaha ayam potong bernama Ambo Alang (38), dihabisi di rumahnya Kelurahan Talang Banjar, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi. Polisi juga belum bisa memastikan pelakunya. Kejadian ketiga menimpa Handoyo alias Aan (30), pada Selasa (23/3) lalu di Kelurahan Rawa Sari, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi termasuk kasus yang belum terungkap. Saat itu, Aan tewas dikeroyok oleh sejumlah pria tak dikenal.

Peristiwa sadis juga terjadi di Desa Pulau Rengas, Kecamatan Bangko Barat Kabupaten Merangin. Kejadian yang menimpa Asnibar (37) warga Pasar Baru RT 22 Pematang Kandis itu, terjadi pada Rabu (31/3). Dalam kasus ini, polisi telah berhasil meringkus tersangka yang diketahui terlebih dahulu memperkosa korban sebelum menghabisi nyawanya.

Korban lainnya adalah Abdul Rahman (31). Dia dibunuh oleh Saleh di Desa Tanjung Lamin, Kecamatan Bangko Barat Kabupaten Merangin, Kamis (22/4) lalu. Hanya berselang beberapa hari, mayat tanpa identitas ditemukan di Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi, Rabu (28/4) lalu. Diduga, korban dibunuh di luar Muarojambi, dan kemudian mayatnya dibuang di KM 28 depan makam pahlawan Muarojambi.

Korban pembunuhan lainnya adalah Zulkarnai alias Punai (33). Ketua Karang Taruna Pinang Merah, Kelurahan Parit Culum, Kecamatan Muarasabak Barat, Kabupaten Tanjab Timur itu, tewas setelah dikeroyok dan ditikam pelaku yang belum tertangkap, GOR Muarasabak Kabupaten Tanjab Timur, Kamis (29/4) lalu.

Kriminolog dari Unja, Sahuri Lesmadi mengakui, beberapa bulan terakhir kasus pembunuhan cukup mengkhawatirkan di Jambi.  Menurut dia, ada sebuah tren baru dalam dari beberapa kasus pembunuhan tersebut.

“Ada yang namanya psikologi kekuasaan,” katanya. Dia mencontohkan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh suami pada istrinya sendiri. Dalam kasus itu, kata dia, si pelaku merasa dia adalah suami yang menjadi kepala keluarga. Karena tekanan yang terus menerus diberikan oleh istri pada dirinya, membuat pelaku memberontak dan akhirnya melakukan tindakan tersebut. “Karena dia menilai, harusnya dia yang menjadi penguasa di keluarga,” katanya.

Psikologi kekuasaan itu, menurut Sahuri, terjadi di tengah masyarakat yang saat ini semakin mendapat tekanan. Baik itu oleh penguasa, tekanan ekonomi dan lainnya. Hal itu yang menimbulkan pemberontakan dari dalam diri.

Menurut dosen kriminologi Fakultas Hukum Unja itu, ada dua faktor seseorang sanggup membunuh. Yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain adalah kejiwaan si pelaku itu sendiri. “Walaupun dia berada di lingkungan yang baik, namun kalau niatnya sudah untuk membunuh, hal itu bisa terjadi. Keturunan juga sangat berpengaruh,” jelasnya.

Kemudian, faktor eksternal, bisa dari ekonomi, dan lingkungan. ‘’Desakan ekonomi yang demikian hebat, ditambah lingkungan dan pergaulan yang tak mendukung, bisa menjadi salah satu penyebab seseorang nekad membunuh,’’ katanya.

Terlepas dari itu, kata Sahuri, yang paling penting adalah pengenalan tiap-tiap pribadi dengan agama. Karena jika seseorang lebih mengenal agama, maka perbuatan-perbuatan keji seperti membunuh akan bisa dijauhi. “Jadi, sebaik mungkin kita harus terus mengenalkan agama dengan setiap orang,” sarannya.

Sementara itu, psikiater di salah satu RS Ternama di Kota jambi, Asianto, mengatakan secara umum seseorang membunuh secara spontan dan terencana. Spontan, jika si pelaku merasa terdesak. “Hal itu bisa saja karena membela diri, atau karena perbuatannya dipergoki orang sehingga langsung dihabisi,” katanya.

Sedangkan untuk pembunuhan yang terencana, menurut dia, bisa disebabkan karena berbagai permasalahan. Misalnya karena dendam yang sudah lama terpendam. “Karena sudah lama memendam kesal, pelaku bisa saja merencanakan pembunuhan. Atau bisa juga terjadi secara spontan,” jelasnya.

Yang jelas, kata Asianto, membunuh itu bukan perkara yang mudah. Jika seseorang sudah sanggup membunuh, hal itu disebabkan oleh beberapa faktor yang disebutkannya tadi. “Terutama karena adanya tekanan,” katanya.

Polisi Terkendala Saksi
Polisi mengaku sedikit kesulitan mengungkap beberapa kasus yang terjadi di Jambi. Meski demikian, Kabid Humas Polda Jambi, AKBP Almansyah menegaaskan bahwa polisi masih terus menyelidiki kasus-kasus pembunuhan yang belum terungkap itu.

“Kita terus berkoordinasi dengan seluruh jajaran,” katanya. Menurut mantan Kabid Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jambi itu, anggota terus disebar di lapangan untuk melacak jejak para pelaku. Dia mengakui, dari beberapa kasus yang diselidiki, banyak motif dalam peristiwa itu. Bisa karena desakan ekonomi, dendam, atau hal lain yang mendukung.

Lambannya pengungkapkan kasus pembunuhan itu, menurut Almansyah, bukan karena polisi tidak bekerja. Dalam mengungkap berbagai kasus pembunuhan itu, polisi juga menghadapi beberapa kendala. Antara lain, tidak ada saksi mata dalam kejadian itu. “Sehingga, kita harus mengumpulkan keterangan dan barang bukti sedikit demi sedikit, agar bisa mengarah ke pelaku,” katanya.

Selain itu, tempat kejadian perkara yang jauh, sehingga terkadang kejadian baru diketahui setelah beberapa jam kemudian juga jadi kendala. Akibatnya, pelaku sudah jauh melarikan diri. Kemudian, beberapa kejadian, korban yang ditemukan sama sekali tidak diketahui identitasya. “Seperti di Muarojambi, diduga korban memang bukan orang setempat. Kemungkinan dia dibunuh baru kemudian mayatnya dibuang di sana,” jelasnya.(*)

sumber: www.jambi-independent.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s