Dua Anggota DPRD Tersangka Kasus Biaya Angkut Sampah

Posted: 03/06/2010 in BERITA PROVINSI

Setelah melakukan serangkaian penyidikan, pada 31 Mei 2010 Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi akhirnya menetapkan dua orang tersangka kasus dugaan korupsi peningkatan anggaran biaya angkut sampah CV Usaha Sehat Bersama (USB). Tapi pihak Kejati hanya menyebut inisial kedua tersangka tersebut, yakni ZS dan RW.

Dari penelusuran Jambi Independent, ZS dan RW ini diketahui Zulkifli Somad dan Ridwan Wahab, dua anggota DPRD Kota Jambi. Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jambi Yuswa Kusumah mengatakan, sebelum menetapkan keduanya sebagai tersangka, penyidik telah melakukan ekspos terhadap hasil penyelidikan kasus itu. Dari hasil ekspos tersebut, ditemukan alat bukti permulaan yang cukup, mengarah kepada kedua anggota dewan tersebut. “Untuk kasus USB sudah ada tersangkanya. Namun untuk lebih jelasnya, silakan dikonfirmasi dengan Aspidsus,” katanya, kemarin (31/5).
Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jambi Andi Herman, mengatakan, penyidik telah memperoleh bukti permulaan yang cukup, yang mengarah kepada pelaku. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, yakni UU No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 tahun 2001. “Dua orang tersangka itu masing-masing berinisial ZS dan RW. Dari bukti permulaan yang didapatkan, baru dua orang ini yang dapat dimintai pertanggungjawabannya,” ungkapnya.

Penetapan kedua tersangka itu berdasarkan bukti rekaman short message service (SMS), dan transfer uang melalui bank. Bukti permulaan ditambah lagi dengan keterangan yang mengarah pada tersangka. Permintaan sejumlah uang terhadap Syafruddin dilakukan dengan mengatas namakan seluruh anggota dewan.

Untuk membuktikan hal ini, masih akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Saat ini kasusnya masih didalami guna mencari alat bukti yang mengarah kepada tersangka lain. Dari alat bukti yang telah kita dapatkan, permintaan sejumlah uang itu mengatas namakan anggota dewan,” terangnya. “Kita masih mengumpulkan alat bukti lainnya, apakah memang semuanya terlibat, atau dua orang ini saja. Jadi, tidak tertutup kemungkinan ada tersangka lain, tergantung alat bukti yang didapatkan,” tambahnya.

Dalam waktu dekat kedua tersangka segera diperiksa. Selain itu, penyidik juga akan memanggil saksi untuk dimintai keterangan. “Menegani kapan pemanggilannya, belum bisa dipastikan karena jadwalnya masih disusun,” katanya.

Kasus dugaan korupsi peningkatan anggaran upah angkut sampah ini dilaporkan Direktur CV USB Syafrudin ke Kejati Jambi Akhir April lalu. Awalnya, Syafruddin membeberkan fakta dugaan pemerasan yang dilakukan anggota DPRD kota periode 2004-2009 terhadap dirinya.

Selasa 11 Mei, Syafruddin menyerahkan dua kaset rekaman percakapan antara dirinya dan sejumlah anggota DPRD Kota Jambi. Dalam rekaman tersebut, intinya menyebutkan permintaan uang sebesar Rp 2 miliar oleh oknum dewan. Tujuannya memuluskan perpanjangan kontrak kerja.

Durasi percakaan masing-masing kaset tape warna hitam yang telah diserahkan kepada penyidik tersebut sekitar 10 menit.

Kemudian, pada Jumat 14 Mei 2010, Syafruddin menyerahkan pesan singkat (short message service/SMS) dari dewan yang berbau memeras ke Kejati Jambi. Puluhan SMS tersebut sudah di-print out pada kertas warna merah.

Selain itu, Syafruddin juga menyerahkan bukti pengiriman (transfer) uang kepada rekening Zulkifli Somad dalam dua tahap. Pertama pada tanggal 1 Oktober 2007 sebesar Rp 200 juta. Selanjutnya, uang kirim lagi sebesar Rp 525 juta pada rekening dan atas nama yang sama, 22 Januari 2008.

Dari bukti transfer itu, uang tersebut ditulis; untuk bantuan anggota DPRD Kota Jambi.  Bantuan ini disebut-sebut Zul Somad—sapaan Zulkifli Somad—sebagai bantuan saat pilkada beberapa waktu lalu. Namun,  mantan ketua DPRD Kota Jambi itu belum bisa membuktikan sanggahan tersebut.

Sementara itu, rekaman pesan singkat melalui handphone yang di-print out itu merupakan bujuk rayu dari kalangan dewan agar memuluskan penambahan anggaran.

Di antara isi pesan singkat yang diserahkan pada penyidik tersebut di antaranya berisi percakapan antara Syafruddin dengan beberapa anggota dewan tanggal 1 September 2007 sampai 21 Januari 2008. Sebagian besar SMS diketik menggunakan huruf kapital.

Di antaranya, BOS INI ADA NOMOR REKENING BANK MANDIRI 11000043801XX UANGNYA Rp 550 JUTA, 450 JT UNTUK ANGGT DEWAN 100 JT UNTUK SAYA. SMS ini dikirim pada 17 Januari 2008. Selanjutnya satu pesan masuk pada tanggal 22 Januari 2008 yang berbunyi, SUDAH MASUK Y PAK. Dua pesan singkat ini merupakan percakapan antara Zulkifli Somad dengan Syafruddin.

Sebelumnya ada banyak SMS yang dikirimkan oleh oknum anggota dewan tersebut. MEMANG SUSAH NIAN DGN KAU NI DIN KEBETULAN KAMI TADI SEDANG PRESENTASE MASALAH PERSAMPAHAN KOTA DENGAN PAK WALI KATA PAK WALI SALAM BUAT SAFRUDIN. Setelah itu ada pesan singkat yang berbunyi, PAK KALAU BISA MALAM INI SAJA JAM 9 HABIS TARAWE BESOK SAYA SIBUK BETUL LEBIH CEPAT LEBIH BAIK.

SMS yang bernada desakan juga dimiliki oleh Syafruddin. YA PAK KAPAN UNTUK DEWANNYA PAK SAYA DIKEJAR2 ANGGT. BOS PALU SUDAH DIKETOK KAWAN2 NANYO. Di kesempatan lain, ADA DIMANA BOS KWN2 DEWAN NANYA YANG KEMARIN PAK? Lalu ada juga percakapan antara seseorang anggota dewan dengan Syafruddin ketika meninjau tempat pembuangan sampah akhir (TPA). SAYA DGN PAK ARIF MELIHAT TPA KATA PAK ARIF BPK BELUM MENGAJUKAN UANG MUKA.

SMS lainnya terungkap dari salinan yang diterima Jambi Independent dari pihak USB. Dalam pesan singkat itu, terlihat ada komunikasi aktif dari kalangan dewan mendesak agar Syafruddin segera memenuhi permintaan mereka (dewan). Foto pertama yang diterima terungkap hubungan SMS sejak tanggal 20 September 2007 hingga 5 Oktober 2007.

Dalam lembaran ini, ada dua nama anggota dewan yang intens melakukan komunikasi dengan direktur USB. Misalnya pesan Zulkifli Somad pada 20 September 2007, pukul 21.14, berbunyi BOS, TMTP YG LAMA SAJA DI SINI ADA LSM. Lalu ada pesan pada 24 September, kali ini dari Ridwan Wahab. Isinya, BOS KAYAKNYO DA ADO NIAN MAU RESPON JANJINYA TERHADAP AKU PRIBADI KEMARIN TOLONG JELASKAN BE ADO NIAT APO IDAK? KALI IDAK KAMI MAU BUAT KOMITMEN ANGGARAN 2008 DENGAN AKAU BE. DIO SIAP BANTU KAWAN2 INI KAWAN2 NURUT AKU BE BOS DENGAR DEWEKAN? DIA SIAP NGADAKAN MOBIL 60 UNIT ASAL DEWAN MENDUKUNG. PAYAH DENGAN BOS, KITA COBA DG USB YANG LAINLAH LAGI.

Tak hanya itu, desakan lain terus bergulir. SMS dengan nada desakan terus diterima oleh Syafruddin. Seperti pada saat disahkannya anggaran belanja tambahan (ABT). Berikut petikan pesan yang diterima dari Zulkifli Somad pada 28 September 2007. BOS, KAMI SDANG RAPAT PENGESAHAN ABT, KWN2 NANYA YG KEMAREN TLNG YA BOS, DEMI NAMA BAIK BOS DIMATA DEWAN.

Lalu SMS Zul Somad—sebutan Zulkifli Somad—pada 1 Oktober 2007. Isinya, BOS, KAMI SDH KONTEK PAK BUDI, KATANYA BPK SDNG NARIK DANA DI PEMDA VIA AZIZ 600 JT. DIA TDK BISA BANTU. Selanjutnya tanggal 3 Oktober sekitar pukul 16.52, Zul Somad yang kembali terpilih sebagai anggota dewan periode 2009-2014 ini kembali kirim SMS; ASS PAK, GMNA PAK SDH DIJAMBI Y? SAYA STRES DITAGIH KAWAN-2.

Selanjutnya pada 05 Oktober 2007, Ridwan politisi Partai Demokrat kembali mengirimkan pesan singkat. Isi pesan itu pun mendesak agar Syafruddin segera memenuhi janjinya kepada anggota Dewan. DIN KAU SELESAIKANLAH JANJI 2 KAU DG KETUO TERHADAP KAWAN2 DI PANGGAR DAN KEPADA AKU. MUNGKIN SENIN UDAH KELIATAN DIKORAN HUB KITA.

Balik Laporkan Bos USB

Zulkifli Somad dan Ridwan Wahap, dua anggota DPRD Kota yang ditetapkan Kejati Jambi sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penambahan anggaran upah angkut sampah di kota tidak gentar menghadapi proses hukum. Bahkan, Zulkifli Somad tidak tinggal diam. Mantan Ketua DPRD Kota dua periode itu berencana akan melaporkan balik Syafrudin ke Kejaksaan Negeri Jambi.

Ketika dikonfirmasi malam tadi, Zul Somad -begitu dia biasa disapa-mengaku belum tahu dirinya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejati. Makanya, dia mengaku belum bisa memberikan tanggapan terkait status barunya itu.

Sampai malam tadi, Zul Somad mengaku belum mendapat surat pemberitahuan atau surat panggilan sebagai tersangka. ‘’Saya baru tahu ketika ditelepon wartawan yang mau konfirmasi malam ini, termasuk Anda. Jadi bagaimana saya mau beri tanggapan,’’ katanya saat dihubungi malam tadi.

Sebelumnya, siang kemarin (31/5/2010), Zul Somad mengatakan dia akan melapor balik Syafrudin (1/6/2010) sekitar pukul 10.00. Laporan itu terkait tidak dibayarkannya pajak kepada Pemkot Jambi sebesar Rp 301 juta. Pajak yang tidak dibayarkan USB itu adalah pajak tahun 2008 selama sembilan bulan dengan jumlah Rp 234 juta ditambah bunga pajak.

Menurut dia, tidak dibayarkannya pajak itu sudah merupakan kerugian negara. “Sudah jelas kerugian negara, ini berdasarkan laporan BPK, besok saya melapor ke kejaksaan langsung dengan membawa Laporan hasil pemeriksaan BPK,” tandasnya.

Soal tuduhan Syafrudin, Zul Somad tetap membantah bukan pemerasan. Menurutnya tidak ada pemerasan, uang yang diberikan Syafrudin kepada dirinya dianggapnya pemberian secara sukarela. “Syafrudin sering ke rumah saya, uang yang diberikan dengan saya sukarela, tidak ada pemerasan,” katanya.

Dia juga mengakui pemberitaan mengenai dirinya beberapa hari tidak berada di Jambi bukan melarikan diri, tetapi berobat ke Jakarta. “Tidak ada melarikan diri. Rumah saya digembok karena orangnya tidak ada di rumah, ya memang harus digembok,” pungkasnya.

Sementara itu, Ridwan Wahab belum bisa dikonfirmasi. Beberapa kali dihubungi, nomor ponselnya tidak aktif.(*)

Sumber: www.jambi-independent.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s