Tambang Emas Sarolangun Longsor, Tiga Tewas

Posted: 03/06/2010 in KABA KAMPUNG KITO

Areal tambang emas tradisional di Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun kembali merenggut korban jiwa. Tiga orang penambang dilaporkan tewas tertimbun longsoran tanah lubang galian sedalam kurang lebih 9 meter.

Dua penambang lagi mengalami patah kaki, dan tak sadarkan diri. Peristiwa nahas itu terjadi di lokasi areal penambangan emas tradisional (Dompeng, red) di Dusun Tebing Tinggi, Desa Monti Kecamatan Limun, Senin (24/5/2010) lalu, sekitar pukul 22.00 WIB. Tiga korban tewas masing-masing bernama Sudirman (45), Ramli (24), dan Bahrun (24).

Sedangkan korban patah kaki dan luka berat adalah Aidi (36) dan Deri (18). Seluruh korban petani asal Desa Mensao, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun. Deri dan Aidi yang tidak lain ayah dan anak itu kini dirawat intensif di Rumah Sakit Chatib Quzwain Sarolangun.Kapolres Sarolangun, AKBP Mintarjo melalui Kabag Ops Kompol Eduar Pardede mengatakan, kejadian itu berawal ketika ke lima pekerja tambang tersebut menggali lubang untuk mencari emas. Lubang tambang itu mereka gali sejak siang.

Ketika mereka sedang asyik bekerja, secara tiba-tiba bagian dasar lubang yang digali mendadak longsor. Kelima pekerja tersebut tidak sempat menyelamatkan diri, sehingga langsung tertimbun longsoran tanah. Melihat kejadian itu, teman-temannya berusaha menolong. Mereka berhasil menyelamatkan Aidi serta Deri.

Sedangkan tiga korban lainnya saat ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Mereka terbenam di dalam lubang yang berkedalaman sekitar 9 meter. Selanjutnya korban yang berhasil diselamatkan langsung dibawa ke RSUD Prof DR HM Chatib Quzwain, Sarolangun.  Sementara korban meninggal diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing.

“Anggota (Polres Sarolangun) mendapat laporan dari masyarakat sekitar pukul 01.00 tengah malam. Selanjutnya, anggota langsung mendatangi TKP dan mengevakuasi para korban,” kata Eduard.

Longsornya tambang emas tradisional ini merupakan yang kedua kalinya di Sarolangun. Sebelumnya, pada 27 Desember 2009 lalu, musibah serupa juga terjadi di Kecamatan Limun, tepatnya di Desa Temanggung. Saat itu empat penambang tewas. Mereka masing-masing Tasmi (30), Kombarina alias Cat (25), Susilawati alias Kopek (28) dan Harmen (30).  Para korban merupakan warga Dusun Mangkadai, Desa Temanggung, Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun.

Peristiwa tragis ini mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Sarolangun, Fadlan Arrafiqi. Mantan Ketua GP Ansor Kabupaten Sarolangun itu menilai persoalan penambangan emas tradisional atau yang lebih dikenal dengan sebutan PETI itu harus secepatnya disikapi oleh pihak terkait.

Pria yang biasa disapa Rafik itu mencatat, dalam enam bulan terakhir sudah tujuh orang meninggal dunia dan dua orang luka-luka tertimbun longsor. Bila tidak diambil langkah penanganan, sangat dimungkinkan korban jiwa akan terus bertambah. Disamping itu lingkungan akan terus tercemar oleh limbah yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan tradisional tersebut.

“Ini sudah stadium tinggi, harus segera disikapi. Pendekatan persuasif sepertinya tidak bisa lagi. Harus dilakukan pendekatan represif dengan melakukan penindakan dan penertiban, agar tidak ada lagi korban jiwa dan pencemaran lingkungan,” katanya dengan nada tinggi.

Dia memaklumi, aktivitas penambangan itu merupakan mata pencaharian sebagian masyarakat. Tapi, perlu diingat tidak keseluruhan masyarakat bermata pencaharian seperti itu. Selain itu masyarakat hanya sebagai pekerja dan yang mendapat keuntungan adalah orang yang mendanai aktivitas tersebut.

“Ini PR bagi kita jika dampak dan resikonya lebih banyak mengapa kita harus menoleransi. Apalagi ini tidak menambah pendapatan daerah,” kata Rafik. Dalam waktu dekat Komisi II DPRD Sarolangun akan memanggil pihak terkait untuk duduk bersama terkait penanganan terhadap aktivitas penambangan emas tersebut.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Suhariyadi dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Sarolangun, Hambali ketika dikonfirmasi mengaku belum mendapat kabar terkait adanya korban meninggal dunia. Keduanya mengaku sejauh ini terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan bersama perangkat desa dan masyarakat di Kecamatan Limun terkait aturan hukum, dampak dan bahaya yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan emas tradisional tersebut.

Hanya saja, kata dia, kesadaran masyarakat masih terbilang sangat lemah. “Kalau soal penindakan kita tidak memiliki kewenangan,” katanya. Meskipun demikian, Suhariyadi dan Hambali mengaku akan mengambil langkah-langkah taktis dan strategis terkait penanganan dengan melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait.(*)

Sumber: www.jambi-independent.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s