POTENSI DAERAH

Kekayaan Tambang dan Energi Sarolangun

Potensi kekayaan sumber daya alam pertambangan dan energi di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, belum banyak dieksploitasi untuk dijadikan pemasukan pendapatan daerah dan masyarakat.

Potensi tambang dan energi kabupaten baru itu, yang belum dimanfaatkan optimal, seperti batu bara, emas, tembaga, biji besi, bahan baku semen, dan pasir kuarsa, kata Bupati Sarolangun Hasan Basri Agus di Jambi, Sabtu (21/7).

Jika potensi itu sejak dulu digarap mungkin kabupaten itu sudah maju dan tidak tertinggal seperti sekarang yang masih banyak memiliki desa-desa tertinggal dan pendidikan masyarakat rendah.

Kabupaten Sarolangun dibentuk pada 1999 berdasarkan UU No 54/1999 dengan jumlah penduduk 198.822 jiwa juga memiliki potensi minyak bumi 23 juta ton barel dan kini digarap 2.000 barel per hari.

Sedangkan cadangan batubara sebanyak 800 juta ton dengan kalori 5.000 hingga 6.000 kkal/gram, serta kandungan bahan baku semen 140 juta ton.

Melihat dari ketersediaan potensi sumber daya alam sebenarnya sangat menjanjikan untuk kesejahteraan rakyat, tetapi kenyataan dihadapkan berbagai masalah keterbatasan infrastruktur, dan masyarakat masih tertumpu di sektor pertanian.

Sebab itu Pemkab Sarolangun sampai kini terus mencari investor asing untuk menggarap potensi migas. Saat ini yang telah masuk yaitu Petrochina, dan BWP Meruap.

Sementara penggarapan batubara kini terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik di luar Jambi, serta kebutuhan lokal. (kapanlagi.com)

Kembangkan Tanaman Nilam 150 Hektar

Pemerintah Kabupaten Sarolangun meningkatkan pengembangan tanaman nilam yang kini sudah mencapai 150 hektar, yang diusahakan oleh para petani yang bermukim di kawasan Bukit Barisan.Bupati Sarolangun, Hasan Basri Agus di Jambi, Sabtu (28/7) mengemukakan, animo warga Kecamatan Batang Asai untuk mengembangkan tanaman bahan baku minyak wangi itu kini terus berkembang.

Awalnya tanaman itu dikembangkan di areal puluhan hektar, namun kini warga sudah menyiapkan lahan seluas 150 hektar untuk ditanami nilam.

Warga yang mengembangkan tanaman nilam itu juga sudah membentuk kelompok tani, dan kini mereka mengajukan bantuan bibit pada pemerintah atau instansi terkait.

Dalam 100 kg daun kering nilam, 30% di antaranya menghasilkan sari pati minyak untuk dijadikan bahan baku minyak wangi, kosmetik dan lainnya.

Umur panen tanaman nilam itu selama delapan bulan, dan kini harga minyak mencapai Rp250 ribu per kg hingga Rp300 ribu/kg, sehingga cukup membangkitkan semangat warga terutama yang bermukim di daerah itu.

Tujuan pemerintah Kabupaten Sarolangun untuk mengembangkan tanaman nilam di sisi Bukit Barisan juga dalam upaya menjaga kelestarian hutan, agar warga yang bermata pencaharian sebagai penebang liar dapat diarahkan mengembangkan tanaman tersebut.

Instansi terkait diperintahkan untuk mengerahkan tenaga penyuluhnya membantu dan membina petani dalam mengembangkan tanaman nilam tersebut, bila perlu membangun pabrik penyulingan, yang selama ini dilakukan di Bengkulu dan Sumatera barat. (kapanlagi.com)

INVENTARISASI BAHAN GALIAN PADA BEKAS TAMBANG DI KABUPATEN SAROLANGUN
(Edie Kurnia Djunaedi, Yuman, Yunizar)
Kelompok Program Penelitian Konservasi

S A R I
Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan bahan galian perlu dilakukan penerapan konservasi bahan galian, sehingga tidak menyebabkan pemborosan atau penyia-nyiaan bahan galian di berbagai tahapan kegiatan. Disamping itu dalam pengelolaan sumber daya mineral juga perlu perumusan konservasi untuk kepentingan penelitian, cagar alam geologi/laboratorium alam dan cadangan bagi generasi yang akan datang.Dalam mendukung upaya tersebut di atas, tim dari Pokja Konservasi Pusat Sumber Daya Geologi telah melakukan Inventarisasi Bahan Galian Pada Bekas Tambang di Daerah Kabupaten Sarolangun, Jambi
Potensi bahan galian di daerah kabupaten Sarolangun, terdiri dari : Batubara, Emas,Batugamping, Granit, Pasir kuarsa, Pasir sungai, Lempung, Minyak bumi, Biji besi, Zirkon, Timbal, Tembaga, Marmer, Kaolin, Fosfat dan Bentonit. (Bappeda kab.Sarolangun,2002 dan Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi, kab Sarolangun,2006)
Bahan galian tersebut diatas pada umumnya dikelola oleh beberapa perusahaan, tahapannya masih dalam penyelidikan umum sampai dengan eksplorasi. Perusahaan yang melakukan kegiatan eksploitasi pada saat ini PT. Bina Wahana Meruap bumi dan PT.Petro China yang melaksanakan penambangan minyak bumi dan PT. Sungai Belati Coal yang menambang batubara.
Bahan galian pada bekas tambang yang ada di kabupaten Sarolangun hanya bekas-bekas tambang emas tanpa izin (PETI).
Kegiatan penambangan ini telah lama dilakukan oleh beberapa keluarga secara turun temurun. Sebelumnya masyarakat hanya menambang dengan cara mendulang, namun kini dengan masuknya pendatang bekerjasama dengan penduduk setempat dan seiring kemajuan teknologi, kegiatan penambangan telah menggunakan mesin ‘Dompeng’. Kegiatan penambangan dilakukan terutama pada daerah-daerah sekitar Sungai Batang Asai, Sungai Tembesi, Sungai Selembau, Sungai Limun dan Sungai Batang Rebah.
Jumlah sumber daya hipotetik emas aluvial yang masih tersisa di Blok.1 kecamatan Batang Asai 63.148 kg. Blok.2. kecamatan Bathin VIII dan Kecamatan Sarolangun 280.720 kg kg, Blok.3. Desa Teluk Rendah, Kp Tujuh, Kecamatan Limun 32.351 kg dan Blok.4 Desa Ranggo,Kecamatan Limun 32.222 kg.
Potensi bahan galian lain pasir kuarsa, zirkon dan mineral ikutan pada proses pengolahan emas aluvial di daerah inventarisasi kurang lebih 0,6 % dari jumlah potensi aluvial.
PENDAHULUAN

Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan bahan galian perlu dilakukan penerapan konservasi bahan galian, sehingga tidak menyebabkan pemborosan atau penyia-nyiaan bahan galian di berbagai tahapan kegiatan. Disamping itu dalam pengelolaan sumber daya mineral juga perlu perumusan konservasi untuk kepentingan penelitian, cagar alam geologi/laboratorium alam dan cadangan bagi generasi yang akan datang.
Dalam mendukung upaya tersebut di atas, tim dari Pokja Konservasi Pusat Sumber Daya Geologi telah melakukan Inventarisasi Bahan Galian Pada Bekas Tambang di Daerah Sarolangun, Jambi
Secara geografis daerah ini terletak antara 102° 03’39” sampai 103° 17’13” Bujur Timur dan 01° 53’ 39” sampai 02° 46’24” Lintang Selatan. (Gambar1).

POTENSI BAHAN GALIAN
1. Geologi
Geologi daerah kegiatan di kabupaten Sarolangun telah diteliti oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, dengan hasil dengan hasil berupa Peta Geologi Lembar Sarolangun Sumatra, Sekala 1:250.000, oleh N. Suwarna, Suharsono, S.Gafoer,T.C.Amin, Kusnama dan Hermanto, tahun 1992 (Gambar 2).
Fisiografi bagian barat daerah kabupaten Sarolangun ditempati oleh pegunungan Barisan, dicirikan oleh topografi yang kasar, tersusun dari batuan sedimen malihan dan batuan beku yang terpotong oleh lembah-lembah yang dikontrol oleh sesar. Ketinggian berkisar antara 320 meter sampai lebih dari 2380 meter di atas permukaan laut dengan lereng yang curam yang tertutup rapat hutan-belukar. Pola aliran yang utama adalah rektangular dan teralis dengan bentuk lembah umumnya adalah ‘V’ sempit dan lurus. Bagian timur merupakan dataran rendah yang terbuka, hanya ditutupi oleh semak-belukar dan hutan kecil sementara di beberapa tempat berupa rawa.
Bagian timur dan timurlaut daerah ini terdiri dari lahan yang bergelombang, dengan ketinggian beberapa puluh meter diatas permukaan laut. Sungai-sungai mempunyai bentuk meander dan berpola meranting sampai rektangular, kebanyakan sungai besar mengalir kearah baratlaut-tenggara, sejajar dengan arah struktur utama.
Urutan batuan tertua sampai dengan termuda di daerah kabupaten Sarolangun adalah batusabak, serpih, batulanau dan batupasir yang semuanya termasuk dalam Formasi Peneta. Batugamping dan serpih termasuk dalam Anggota Mersip. Kerikil,batulanau, greywacked, diabas, basal termasuk Formasi Rawas. Formasi dan Anggota tersebut diatas berumur Jura Akhir-Kapur Awal.
Diatas batuan Formasi tersebut diatas diendapkan perselingan batupasir malihan, batusabak, filit, batulanau, greywacke, batugamping, genes, batulempung dan batugamping ‘wackstone-packstone’ yang termasuk dalam Formasi Asai, berumur Kapur.
Diatas Formasi Asai diendapkan secara takselaras Formasi Hulusimpang, terdiri dari breksi gunungapi,lava,tuf,konglomerat, batupasir tufaan setempat sisipan batugamping dan batulempung. Formasi Papanbetupang terdiri dari konglomerat aneka bahan, batupasir, batulempung-batulanau, breksi aneka bahan, batupasir-batulempung tufaan, kedua Formasi ini berumur Oligosen.
Secara selaras diatasnya diendapkan Formasi Kasiro yang terdiri dari serpih, batulempung dan batulanau berumur Miosen Awal. Formasi Gumai terdiri dari serpih, batupasir,napal dan batugamping berumur Akhir Miosen Awal-Awal Miosen Tengah.
Diatas Formasi Gumai diendapkan secara takselaras Formasi Air Benakat, yang terdiri dari batulempung, batupasir, batulanau, konglomerat dan napal berumur Akhir Miosen Tengah-Awal Miosen Akhir.
Secara takselaras diatasnya diendapkan Formasi Muaraenim yang terdiri dari batupasir dan batupasir tufaan, berumur Miosen Akhir.
Selanjutnya diatas Formasi Muaraenim secara takselaras diendapkan Formasi Kasai yang terdiri dari tuf dan tuf batuapung, batupasir tufaan dan batulempung tufaan berumur Pliosen Akhir-Pleistosen Awal. Selanjutnya diendapkan Aluvium yang terdiri dari bongkah,kerakal,pasir,lumpur dan lempung.
Struktur geologi di daerah Kabupaten Sarolangun adalah perlipatan tegak berarah baratlaut-tenggara. Sesar utama berarah baratlaut – tenggara, timurlaut- baratdaya, utara baratlaut- selatan tenggara dan sesar timur-barat.

2. Bahan Galian
Potensi bahan galian di daerah kabupaten Sarolangun (Bappeda kab.Sarolangun,2002 dan Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi, kab Sarolangun,2006), adalah :
Batubara, Emas,Batugamping, Granit, Pasir kuarsa, Pasir sungai, Lempung, Minyak bumi, Biji besi, Zirkon, Timbal, Tembaga, Marmer, Kaolin, Fosfat dan Bentonit.
Kabupaten Sarolangun memiliki bahan galian yang mempunyai nilai ekonomis, khususnya dibagian barat daya pada morfologi pegunungan berupa bahan galian logam dan di bagian timur laut pada morfologi pedataran berupa batubara dan minyak bumi ( Tabel 1,2 ).
PERTAMBANGAN
Bahan galian di daerah Kabupaten Sarolangun belum banyak diusahakan sampai tahap eksploitasi. Perusahaan yang melakukan kegiatan eksploitasi pada saat ini PT. Bina Wahana Meruap bumi dan PT.Petro China yang melaksanakan penambangan minyak bumi dan PT. Sungai Belati Coal yang menambang batubara (Tabel 1 dan 2).
Wilayah bekas tambang yang ada di kabupaten Sarolangun hanya berupa bekas-bekas tambang emas tanpa izin. Kegiatan inventarisasi bahan galian dilaksanakan pada bekas tambang emas aluvial yang telah ditinggalkan oleh penambang emas tanpa izin (PETI). Daerah kegiatan meliputi Kecamatan Batang Asai, Kecamatan Limun, Kecamatan Bathin VIII dan Kecamatan Sarolangun.
Kegiatan penambangan ini telah lama dilakukan oleh beberapa keluarga secara turun temurun. Sebelumnya masyarakat hanya menambang dengan cara mendulang, namun kini dengan masuknya pendatang bekerjasama dengan penduduk setempat dan seiring kemajuan teknologi, kegiatan penambangan telah menggunakan mesin ‘Dompeng’. Kegiatan penambangan dilakukan terutama pada daerah-daerah sekitar Sungai Batang Asai, Sungai Tembesi, Sungai Selembau, Sungai Limun dan Sungai Batang Rebah.
Ada 5 (lima) cara yang dilakukan pada kegiatan penambangan emas tanpa izin di kabupaten Sarolangun, yaitu :
Cara mendulang, mengambil material dari tempat tertentu yang diperkirakan mengandung emas.
Cara menyelam dalam sungai, dengan alat bantu pernafasan masker dan bantuan mesin kompresor yang diletakkan dalam perahu. Penyelaman dilakukan sampai lapisan dasar (kong), dimana biasanya diatas lapisan ‘kong’ terendapkan material pasiran. Untuk memperoleh emas pasiran dikipas-kipas, kemudian bila pada lapisan atas ‘kong’terdapat butiran/ emas pipih, maka emas dijepit dan disimpan dalam suatu tempat.
Cara menghisap yaitu dengan meletakan mesin pompa diatas papan yang beralasan drum-drum mengambang, selang diletakkan pada dasar sungai menghisap material yang diperkirakan konsentrat mengandung emas dan dialirkan ke sluice box yang beralaskan karpet. Bila dasar lapisan ‘kong’ sudah bersih dari endapan pasiran maka penambang menyelam untuk menjepit/menangkap butiran/pipih emas yang menempel dilapisan atas ‘kong’. Pada jam-jam tertentu karpet sluice box tersebut dicuci dalam tempat tertutup (drum), sehingga butiran-butiran emas terlepas dari karpet dan terkumpul dalam konsentrat. Konsentrat yang mengandung mineral berat kemudian didulang, sehingga terpisah butiran emasnya.
Cara menggali sumur berdiameter ± 1 meter, kedalaman vertikal ± 6 meter (sampai dengan ‘kong’) kemudian pada dasar sumur kedalaman 6 meter digali horizontal kearah dan panjang tertentu. Air yang keluar dari pori-pori dinding sumur, dipompa melalui selang dan dibuang kepermukaan. Material yang diperkirakan mengandung emas hasil penggalian ditimba kepermukaan kemudian didulang pada tempat yang telah ditentukan.
Cara menyemprot dengan air bertekanan tinggi pada dinding dan dasar material untuk melepaskan butiran emas. Selanjutnya aliran lumpur hasil penyemprotan disedot dengan mesin dan dialirkan ke sluice box. Lumpur konsentrat yang mengadung emas dialirkan ke sluice box yang beralaskan karpet, karena butiran emas mempunyai berat jenis tinggi, sehingga terperangkap pada karpet. Setelah beberapa waktu karpet tersebut dicuci dalam tempat tertutup (drum), sehingga butiran-butiran emas terlepas dari karpet dan terkumpul dalam konsentrat. Konsentrat yang mengandung mineral berat kemudian didulang, sehingga terpisah butiran emasnya. Untuk mencegah butiran emas halus terbuang konsentrat yang mengandung emas dicampur dengan air raksa, sehingga dengan cara amalgamasi tersebut dapat menangkap seluruh butiran emas. Air raksa yang mengandung emas disaring dengan kain payung, sampai mendapatkan emas bulion. Bulion dibakar sehingga butiran emas terpisah dengan air raksa. Proses pembakaran dan pemurnian ini biasanya tidak dilakukan di daerah penambangan tetapi di tempat lain.

PEMERCONTOAN
Hasil pemercontoan tim inventarisasi di daerah kecamatan Batang Asai, kecamatan Limun, kecamatan Bathin VIII dan kecamatan Sarolangun dapat dilihat pada Tabel 3.
Hasil pemercontoan tim inventarisasi bahan galian pada bekas tambang dianalisis conto konsentrat dulang dan tailing dengan menggunakan metoda analisis butir untuk mengetahui jenis, ukuran dan jumlah butir emas dan mineral ikutan lainnya. Analisis dilakukan di Laboratorium Fisika Mineral, Pusat Sumber Daya Geologi.

Emas Aluvial
Penyebaran endapan aluvial yang berpotensi mengandung emas tersebar di Kecamatan Batang Asai, Kecamatan Limun, Kecamatan Bathin VIII dan Kecamatan Sarolangun. Untuk memudahkan menghitung luas dan potensi penyebaran endapan aluvial, maka di wilayah ini dibagi menjadi Blok.1 meliputi Kecamatan Batang Asai, Blok.2 meliputi Kecamatan Bathin VIII dan Kecamatan Sarolangun, Blok.3 meliputi Desa Teluk Rendah, Desa Kampung Tujuh Kecamatam Limun dan Blok.4 meliputi Desa Ranggo, Kecamatam Limun.
Ketebalan endapan aluvial yang berpotensi mengandung emas di wilayah ini bervariasi, mulai dari 1 meter sampai dengan 0.6 meter, atau rata-ratra 0.80 meter.
Jumlah sumber daya hipotetik emas aluvial yang masih tersisa di Blok.1 kecamatan Batang Asai 63.148 kg. Blok.2. kecamatan Bathin VIII dan Kecamatan Sarolangun 280.720 kg kg, Blok.3. Desa Teluk Rendah, Kp Tujuh, Kecamatan Limun 32.351 kg dan Blok.4 Desa Ranggo,Kecamatan Limun 32.222 kg.

KESIMPULAN
Daerah bekas tambang di Kabupaten Sarolangun, terdapat di daerah bekas tambang emas alluvial tanpa izin.
Pemegang kuasa pertambangan bahan galian di daerah Sarolangun pada umumnya masih tahapan penyelidikan umum eksplorasi, persiapan eksploitasi dan hanya ( 1 ) satu pengelola eksploitasi batubara.
Penambangan emas aluvial di daerah Sarolangun dengan cara mendulang, menyelam, menghisap dialirkan ke sluice box dan menyelam, menggali sumur vertikal dan horizontal dan penyemprotan kekuatan tinggi.
Di daerah Desa Padang Jaring terdapat bekas tambang dan tambang aktip dengan cara menggali secara vertikal, daerah ini juga terdapat tambang dengan cara menyemprot kekuatan tinggi.
Daerah Kecamatan Limun penambang emas aluvial dengan cara menyemprotkan kekuatan tinggi, beberapa daerah lubang bekas tambang ditinggalkan.
Di daerah Kecamatan Bathin VIII dan Kecamatan Sarolangun terdapat kegiatan tambang emas tanpa izin.
Jumlah sumber daya hipotetik emas aluvial yang masih tersisa di Blok.1 kecamatan Batang Asai 63.148 kg. Blok.2. kecamatan Bathin VIII dan Kecamatan Sarolangun 280.720 kg kg, Blok.3. Desa Teluk Rendah, Kp Tujuh, Kecamatan Limun 32.351 kg dan Blok.4 Desa Ranggo,Kecamatan Limun 32.222 kg.
Potensi bahan galian lain pasir kuarsa, zirkon dan mineral ikutan pada proses pengolahan emas aluvial di daerah inventarisasi kurang lebih 0,6 % dari jumlah potensi aluvial.

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan Dan Energi Kabupaten Sarolangun,tahun 2005, Pengkajian limbah pertambangan emas tanpa ijin (PETI).
Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Kabupaten Sarolangun, tahun2006, Potensi Pertambangan Kabupaten Sarolangun
Direktorat Tatalingkungan Geologidan Kawasan Pertambangan,tahun 2002, Inventarisasi Wilayah Keprospekan Kawasan Pertambangan Kabupaten Sarolangun,Provinsi Jambi
P.T ANTAM Tbk, tahun 2006, Mengetahui kemungkinan adanya mineralisasi emas dan mineral pengikutnya, dengan target peninjauan mendapatkan potensi yang menarik
P.T Anugerah Jambi Coalindo, tahun 2006, Eksplorasi semi detail,eksplorasi detail batubara sekarang sedang dilakukan sosialisasi, melakukan kajian analisa dampak lingkungan ( AMDAL), desain tambang,perencanaan tambang dan studi kelayakan.
P.T Bakti Sarolangun Sejahtera, tahun 2005, Eksplorasi Batubara yang menggambarkan Tataguna Lahan, kondisi geologi regional, kondisi geologi daerah penelitian dan tata letak batubara.
P.T Intitirta Primasakti, tahun 2005, Kegiatan eksplorasi Batubara, diprioritaskan pada peresiapan untuk proyek pembangunan konstruksi infrastruktur untuk sarana dan prasarana penunjang kegiatan penambangan.
P.T Jambi Wildcat Mas, tahun 1999, mengadakan penyelidikan bahan galian emas dan mineral ikutannya
P.T Jambi Wildcat Mas, tahun 1999, mengadakan penyelidikan bahan galian emas dan mineral ikutannya
P.T Tambir Mas, tahun 2006, Peninjauan, penyelidikan umum mineral bijih besi di desa Berkun kecamatan Limun, kabupaten Sarolangun.
Suwarna.N,dkk, tahun 1992 memetakan geologi kabupaten Sarolangun, pada Peta Geologi Lembar Sarolangun, skala peta 1 : 250.000.

Advertisements